Langsung ke konten utama

APLIKASI SIG DALAM PEMETAAN WISATA MANGROVE


APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM
PEMETAAN WISATA MANGROVE DI PAGATAN BESAR
KABUPATEN TANAH LAUT

APPLICATION OF GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) IN
MANGROVE TOURISM MAPPING IN BIG MORNING
TANAH LAUT DISTRICT

Yulmaela Matu .P
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan,
Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Jl. A. Yani Km 36, Kampus ULM Banjarbaru

Abstrak
Mangrove merupakan varietas pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove dan memiliki fungsi ekologis penting antara lain sebagai tempat pemijahan, pengasuhan dan mencari makan bagi biota tertentu. Selain itu hutan mangrove juga mampu berperan sebagai penahan abrasi. Hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial mangrove adalah memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran mangrove untuk dijadikan sebagai kawasan wisata dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Penelitian kali ini mengambil contoh kasus di kawasan hutan mangrove di Pagatan Besar, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.


Kata kunci : Pagatan Besar, hutan mangrove, Sistem Informasi Geografis











PENDAHULUAN

Menata ruang wilayah membutuhkan dukungan data dan informasi, baik spasial atau non spasial, yang akurat, terkini, serta data dan informasi tematik yang mengilustrasikan kondisi wilayah. Perubahan kondisi wilayah yang akan disusun rencana tata ruangnya, perlu dipahami dengan baik oleh perencana, karena kualitas rencana tata ruang sangat ditentukan oleh pemahaman perencana terhadap kondisi fisik wilayah perencanaan.
Dengan menggunakan teknologi informasi yang telah berkembang dengan pesat, sebagian data dan informasi spasial yang diperlukan dalam perencanaan tata ruang dapat dibangun dalam sebuah sistem informasi yang berbasis pada koordinat geografis yang lebih dikenal dengan sebutan Sistem Informasi Geografis (SIG). Pada SIG dimungkinkan penggabungan berbagai basis data dan informasi yang dikumpulkan melalui peta, citra satelit, maupun survai lapangan, yang kemudian dituangkan dalam layer-layer peta. Sistem informasi yang meng-overlay-kan beberapa layer tematik diatas peta dasar membantu proses analisa wilayah dan pemahaman kondisi wilayah bagi perencana, serta dapat menghemat waktu karena sebagian proses dilakukan oleh piranti lunak, sehingga dengan SIG proses perencanaan tata ruang dapat lebih efisien dan efektif.
Umumnya upaya untuk memperoleh informasi tentang potensi sumberdaya wilayah pesisir dan lautan dalam rangka untuk mengoptimalkan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan menggunakan metode secara manual. Seiring perkembangan teknologi, perolehan informasi tentang potensi sumberdaya pesisir juga dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (informasi data satelit) dan sistem informasi geografis (SIG).
Hutan mangrove umumnya sebagian telah beralih fungsi menjadi lahan konversi pemukiman serta upaya peningkatan mutu disektor perikanan dan kelautan yang dikembangkan oleh masyarakat, sehingga mengakibatkan kawasan pesisir semakin kecil dan terjadi perubahan kondisi tempat tumbuh mangrove. Sebagai langkah awal pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan, evaluasi kesesuaian lahan dan potensi dari kawasan tersebut untuk tujuan pengelolaan ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Tanah Laut dilakukan sebagai upaya perlindungan dan pemanfaatan secara berkelanjutan.
Hutan mengrove mengalami kerusakan fisik akibat pemanfaatan yang tak terkendali, tak terkecuali di Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil Citra Landsat Ness (1986 – 1991) menunjukkan hutan mangrove di Kalimantan Selatan seluas 115.780 Ha dan pada tahun 2000 menjadi 53.630 Ha (LSM Walhi, Banjarbaru) yang tersebar di 5 Kabupaten yaitu Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru. Berarti dalam kurun waktu satu dekade Kalimantan Selatan telah kehilangan hutan mangrove 62.150 Ha atau ± 54%. Khusus di kawasan pesisir Kabupaten Tanah Laut, kerusakan hutan mangrove telah mencapai seluas 37% atau 931,7 ha dari luasan 2.518,71 ha.



METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kawasan pesisir Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah survei dengan penjelasan secara deskripsi dari data primer dan data sekunder. Lahan mangrove dan non mangrove dibedakan berdasarkan peta acuan tata guna lahan dan dengan mempelajari karakteristik wilayah habitat mangrove. Sedangkan untuk mengetahui tingkat kerapatan mangrove dengan mengklasifikasikan tingkat kerapatan sesuai nilai digital number pada citra satelit.
Penelitian ini terdiri dari pengolahan dan analisis data penginderaan jauh dan didukung oleh data hasil survei lapang. Survei lapang perlu dilakukan sebagai salah satu input data dalam menginterpretasi citra satelit di suatu daerah. Kegiatan survei lapangan ini meliputi berbagai kegiatan, baik pengukuran posisi dengan GPS (tracking), maupun pengumpulan data lapangan seperti identifikasi jenis mangrove dan pengukuran diameter batang. Pengambilan contoh dilakukan secara acak (random sampling), dimana tiap contoh mewakili beberapa tingkat kerapatan mangrove. Survei lapangan dilakukan dengan mengambil bebrapa titik sampel koordinat pada citra hasil klasifikasi dan dilakukukan pengecekan terhadap titik-titik sampel tersebut di lapangan. Banyaknya titik ground check adalah 20% dari luas mangrove. Secara umum tahapan pengolahan data citra satelit dari awal pengumpulan data smapai dengan menjadi peta dengan menggunakan aplikasi sistem informasi geografis dapat dilihat pada gambar (Gambar 1) dibawah ini :


Gambar 1. Tahapan Pengolahan Data









PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Desa Pagatan Besar berada di Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Kawasan desa ini memiliki pantai ±5 km dengan hamparan hutan mangrove yang cukup luas (± 10 hektar). Pohon mangrove yang tumbuh di sekitar pantai desa Pagatan Besar sengaja ditanam oleh pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanah Laut bekerjasama dengan Program Pengawasan Pengembangan Pesisir Tangguh (PDPT) dan masyarakat desa Pagatan Besar untuk mengembangan wisata mangrove. Kawasan wisata mangrove baru dibuka pertengahan tahun 2016 dengan perlengkapan fasilitas berupa jembatan kayu (titian) berbentuk T sepanjang ± 100 meter dan gazebo diantara jembatan kayu yang menjorok ke laut.


Gambar 2. Lokasi Penelitian











Proses Pengolahan Citra
Pada bagian ini dilakukan persiapan awal guna membantu mempermudah proses pengolahan dan pengambilan data berikutnya. Pembuatan citra komposit merupakan salah satu cara guna mempermudah dalam pencarian informasi yang ingin dikaji.
Pembuatan Citra
Pembuatan citra False Color Composite (FCC)  adalah citra komposit yang disusun dengan cara superimposition (tumpang susun) dengan tiga filter warna, masingmasing biru (B), hijau (G), dan merah (R). Masing-masing warna mendapat perlakuan kombinasi yang berbeda pada kanal yang berbeda. Kombinasi ini dilakukan untuk mengamati objek-objek yang terdapat pada citra yang berupa kawasan hutan mangrove maupun kawasan lain seperti sawah, pemukiman, laut dan sebagainya.  Suprakto (2005) menyatakan bahwa pembuatan citra komposit merupakan salah satu cara guna mempermudah dalam pencarian informasi yang ingin dikaji, sehingga membantu kita dalam menentukan daerah contoh (training sample). Citra komposit yang dibuat dalam penelitian ini menggunakan kombinasi saluran RGB 321.
Gambar 2. Citra Komposit RGB 321

Setelah dilakukan pembuatan citra komposit, selanjutnya dilakukan proses Pemotongan citra (croping) yang berfungsi untuk membatasi daerah penelitian dan mengurangi besar file citra.


Transformasi NDVI (normalized difference vegetation index)
Citra satelit Landsat ETM+ dalam mendeteksi hutan mangrove didasarkan pada 2 (dua) sifat penting yaitu bahwa mangrove mempunyai zat hijau daun (klorofil) dan mangrove tumbuh di pesisir. Klorofil fitoplankton yang berada di air laut dapat dibedakan dari klorofil mangrove karena sifat air yang sangat menyerap spektrum infra merah.  Salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi mangrove (lokasi dan luasannya) dengan citra Landsat dapat digunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Metode ini menggunakan kanal 3 dan kanal 4 dari satelit Landsat ETM+ yang masing-masing bekerja pada panjang gelombang 630-690 nm dan 760-900 nm. Pada selang panjang gelombang tersebut, perbedaan kurva pantulan dari objek vegetasi dan tanah sangat besar, sehingga berguna sebagai penduga indeks vegetasi. Pembuatan citra NDVI merupakan salah satu cara untuk memperoleh nilai kerapatan mangrove yang ingin dikaji (Dewanti, 1998).
Interpretasi Sebaran Mangrove
Tahap selanjutnya adalah identifikasi karakteristik vegetasi mangrove untuk mendapatkan peta hasil sebaran mangrove. Pada tahap ini teknik yang dipakai adalah interpretasi menggunakan data acuan berupa peta penggunaan lahan mengenali situs atau hasil pengamatan dari hubungan antar objek di lingkungan sekitarnya atau letak suatu objek terhadap objek lain, dimana dalam hal ini habitat mangrove banyak ditemukan di daerah pesisir pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sutanto (1986) menyatakan bahwa data acuan adalah data yang bukan berasal dari citra penginderaan jauh, ia dapat berupa pustaka, kerja lapangan, peta, pengukuran, dan analisis laboratorium yang dikumpulkan oleh perorangan maupun oleh instansi pemerintah. Data acuan sangat diperlukan dalam interpretasi citra karena dapat meningkatkan kemampuan interpretasi citra dan ketelitian hasil interpretasi yang dapat memperjelas lingkup, tujuan dan masalah sehubungan dengan proyek tertentu.
Pada tahap ini dilakukan overlay antara hasil citra tentatif sebaran vegetasi dengan data acuan yaitu peta penggunaan lahan yang bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik mangrove dengan menggunakan software Arc.View 3.3.
Uji Akurasi
Ketelitian  hasil  interpretasi dihitung berdasarkan metode Short et al (1982)  yaitu titik  sampel  di  lapangan dibandingkan  dengan  hasil  interpretasi citra  satelit. Persentase  ketelitian  hasil interpretasi dihitung dengan formula :
K =  X 100%
Dimana:
K  = Ketelitian hasil interpretasi (%)
B = Hasil interpretasi yang benar
J  = Jumlah sampel yang diambil
Ketelitian  hasil  interpretasi  yang dapat diterima mempunyai nilai minimal 85%.

Analisis Lanjutan dengan SIG
Dalam SIG,  proses  analisis perubahan akan  mudah dilakukan untuk menghasilkan  infomasi  luasan, pembaruan  data,  manipulasi  data, melakukan  layout  peta  luasan  dan kerapatan hutan mangrove.


Gambar 3. Sebaran mangrove



Hutan mangrove di pagatan besar ditumbuhi oleh satu jenis saja yaitu jenis mangrove api-api (Avicennia alba dan Avicennia marina). Jenis ini merupakan tumbuhan berkayu yang mendominasi hutan bakau di pagatan besar. Jenis ini tidak mendominasi tingkat pohon tetapi mendominasi tingkat semai dan tumbuhan bawah, tingkat pancang serta tingkat tiang. Bila dibandingkan dengan jenis lain, perbedaan jumlah individu, jumlah plot dan INP yang dimiliki oleh api-api tampak cukup mencolok. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi Pagatan Besar merupakan tempat yang cocok bagi pertumbuhan jenis mangrove api-api.
Bibit api-api yang ditanam sering gagal tumbuh karena disapu sampah yang hanyut ke pantai, untuk mencegahnya dibuat segitiga pengaman yang dibuat dari kayu ataupun sisa-sisa kayu besar. Pagar dari kayu, bambu dan tali pengaman juga dibuat sepanjang areal hutan demi mencegah masuknya sapi atau hewan ternak lain yang biasa makan daun api-api.
Sekitar 100 meter dari batas pantai, juga telah dibuat petak-petak pembibitan api-api dengan luas ubinan masing-masing 2m X 2m atau 4 m2. Hutan mangrove ini diharapkan dapat mendorong berkembangnya usaha budidaya ikan laut sebagai sumber penghasilan nelayan, sekaligus menjadi destinasi wisata alternatif di Kabupaten Tanah Laut.
Keadaan substrat ekosistem mangrove yang dilihat adalah berupa lumpur pada bagian luar dan berpasir pada bagian dalam. Tanah berlumpur disebabkan oleh peristiwa abrasi yang terjadi tahun 1983 serta dari endapan yang dibawa air sungai. Tanah yang tercuci akan meninggalkan pasir pada bagian atas dan lumpur halus turun ke bagian bawah di bawa oleh arus air laut. Dengan demikian jenis substrat ekosistem mangrove tersebut didominasi pasir pada bagian atas dan lumpur pada bagian bawah atau luar.
Description: Tambatan Perahu, Desa Pagatan Besar Pantau dan Amankan Kawasan Hutan Mangrove


Gambar 3. Jenis mangrove api-api (Avicennia sp)


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Citra satelit Landsat dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi keberadaan mangrove, memperkirakan luasan mangrove serta menilai tingkat kerapatan mangrove dengan teknik NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Tahapan pengolahan data dari awal pengumpulan data hingga menjadi peta sebaran mangrove meliputi pembuatan dan pengolahan citra, transformasi NDVI (normalized difference vegetation index), interpretasi sebaran mangrove serta uji akurasi.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa luas hutan mangrove di Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut yaitu berkisar ± 10 hektar. Jenis mangrove yang paling dominan hidup adalah jenis api-api (Avicennia alba dan Avicennia marina).
Saran
Resolusi spasial citra satelit yang digunakan pada penelitian ini masih kurang detail dalam mendeteksi objek mangrove, hal ini tentunya berpengaruh pada besarnya nilai ketelitian atau keakuratan dalam proses pembandingan data yang terdapat dalam citra dengan data yang berada dilapangan. Oleh karena itu, diperlukan resolusi spasial citra satelit yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Azasi, Noor. 2018. Tambatan Perahu, Desa Pagatan Besar Pantau dan Amankan Kawasan Hutan Mangrove. Sistem Dokumentasi Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal.
Iqbal, Muhammdad N. dkk. 2009. Pemetaan Sebaran Hutan Mangrove Dengan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan Provinsi Jawa Timur. Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Universitas Brawijaya.
Mulyadi, Edi. Dkk. 2009. Konservasi Hutan Mangrove Sebagai Ekowisata. Jurusan Tehnik Lingkungan, FTSP UPN “Veteran”, Jawa Timur.
Wahyudi, 2014. Studi Kondisi Ekosistem Hutan Mangrove di Kecamatan Tangkisung Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan Pasca Abrasi Tahun 1983. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PETA ANALOG DAN PETA DIGITAL

PETA ANALOG DAN PETA DIGITAL Peta diperlukan sebagai petunjuk lokasi wilayah, alat penentu lokasi pengambilan sampel di lapangan, sebagai alat analisis untuk mencari satu output dari beberapa input peta (tema peta berbeda) dengan cara tumpangsusun beberapa peta (overlay), dan sebagai sarana untuk menampilkan berbagai fenomena hasil penelitian seperti peta kepadatan penduduk, peta daerah bahaya longsor, peta daerah genangan, peta ketersediaan air, peta kesesuaian lahan, peta kemampuan lahan, dan sebagainya. Sistem Informasi Geografis atau disingkat SIG merupakan suatu sistem berbasis komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengatur, mentransformasi, memanipulasi, dan menganalisis data-data geografis. Data geografis yang dimaksud disini adalah data spasial yang ciri-cirinya adalah sebagai berikut : 1. Memiliki geometric properties seperti koordinat dan lokasi. 2. Terkait dengan aspek ruang sepertibpersil, kota, kawasan pembangunan. 3. Berhubungan dengan semua f...

STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMETAAN HUTAN MANGROVE DI DESA PAGATAN BESAR

STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMETAAN HUTAN MANGROVE DI PAGATAN BESAR KABUPATEN TANAH LAUT STRATEGY AND MANGROVE FOREST MAPPING POLICY IN PAGATAN BESAR, TANAH LAUT DISTRICT Yulmaela Matu .P Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Jl. A. Yani Km 36, Kampus ULM Banjarbaru Email: Yulmaelamatu27@gmail.com Abstrak Hutan mangrove sering disebut hutan payau atau populer dengan sebutan hutan bakau. Disebut hutan payau, karena hutan ini tumbuh di atas substrat (media tumbuh) yang digenangi campuran air laut dan juga air tawar.  Perpaduan keduanya menjadikan air di daerah tersebut menjadi payau.  Disebut hutan bakau, karena orang sering mengenali dengan keberadaan spesies bakau ( Rhizopora sp ) yang dominan. Hutan mangrove tumbuh di sepanjang pesisir pantai, muara sungai, bahkan ada yang tumbuh di rawa gambut. Komunitas dan pertumbuhan hutan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor alam, misalnya tipe tanah, s...